5 Tanda Kamu Butuh Detox Media Sosial

Photo by Markus Winkler: https://www.pexels.com/photo/digital-detox-how-to-detox-your-digital-life-18524063/

 


Pernah buka notifikasi ponsel namun berakhir scrolling berjam-jam tanpa sadar? Media sosial memang dirancang untuk menarik perhatian kita secara terus-menerus. Berbagai hiburan serta informasi menarik mudah didapatkan dari media sosial. Namun sadarkah kamu, bukannya membantu, kebiasaan bermain media sosial bisa membuatmu terasingkan dari kehidupan nyata?

Bermain media sosial tanpa henti bisa memengaruhi keseharianmu. Tak hanya mengasingkan diri, masalah serius seperti terganggunya kesehatan mental bisa saja terjadi padamu.

Untuk itulah perlu adanya detox media sosial secara rutin. Tak harus menghilang total dari dunia digital, kamu bisa mengurangi intensitas penggunaan media sosial sehari-hari agar tak mengganggu kehidupan sehari-hari. Berikut lima tanda yang mungkin menujukkan bahwa sudah waktunya kamu rehat sejenak dari media sosial.

1.    Ada penumpukan barang yang tak benar-benar kamu butuhkan di rumahmu

Perhatikan seluruh area di rumahmu, lalu amati ada berapa banyak barang yang sebenarnya tak begitu kamu butuhkan namun tetap kamu beli? Jika ada banyak barang hasil dari “keracunan konten” daripada kebutuhan asli, itu sinyal bahaya.

Scroll media sosial bisa memicu impulsif buying. Kamu yang sedikit-sedikit tertarik membeli barang hanya karena merasa barangnya lucu akibat menonton konten dari para affiliator atau content creator, mungkin memang butuh waktu untuk berpuasa dari media sosial agar lebih memahami mana yang kamu butuhkan dan mana yang hanya keinginan sesaat.

2.    Kreativitas terasa mulai menghilang

Meski menonton media sosial cukup menghibur dan cukup membantu memahami tren, ada kalanya berbagai konten tersebut membuat sisi kreatifmu terasa mati. Kamu tak lagi bisa menemukan ide yang baru dan segar karena merasa semua ide sudah digunakan oleh orang lain dan membuatmu makin tertekan.

Jika sudah begitu, lebih baik hentikan sementara semua akun media sosial dan alihkan perhatianmu pada karya milikmu sendiri. Coba pahami dan bangun kreativitas orisinil yang kamu miliki alih-alih mengikuti kreativitas milik orang lain. Ingat, kamu yang paling paham apa sisi menarik dari karyamu yang lebih unggul daripada karya milik orang lain.

3.    Kamu terus membandingkan dirimu dengan orang lain

Terlalu sering menonton kehidupan orang lain dengan segala pencapaiannya akan membuatmu merasa rendah diri. Kamu akan terus merasa kekurangan akibat membandingkan dirimu dan orang lain yang bahkan tak kamu kenal secara langsung.

Daripada terus-menerus merasa rendah diri dan gagal, lebih baik segera hapus semua aplikasi media sosial yang kamu miliki dan terus bebenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ingat, kamu tak butuh cermin milik orang lain untuk bisa mendapatkan hal serupa. Cukup jadi dirimu sendiri dan lakukan apapun yang kamu rasa lebih baik untuk dirimu.

4.    Rasa was-was sering muncul karena khawatir dengan pendapat orang lain

Saat sedang bermain media sosial, kamu mungkin merasa semua dunia sedang memperhatikanmu. Di saat seperti itu kamu pasti berpikir apakah unggahanmu cukup menarik? Apakah ada yang akan berkomentar?  Atau bahkan kamu takut tak akan ada yang menyukai unggahanmu?

Jika semua jawaban dari pertanyaan itu adalah iya, maka jelas bahwa media sosial sudah memengaruhi kondisi emosionalmu. Hentikan sementara semua aktivitas di media sosial dan mulailah fokus pada apa yang ada di sekitarmu. Lakukan berbagai kegiatan positif yang membuat rasa cemasmu hilang dan kamu kembali merasa percaya diri.

5.    Kamu kesulitan fokus karena terus menerus ingin mengecek media sosial

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Heitmayer, seorang dosen pengajar di Departement of Psychological and Behavioral Science, LSE mengemukakan bahwa 89 persen interaksi di ponsel pintar dimulai oleh penggunanya, sementara hanya 11 persen yang yang dipicu oleh notifikasi ponsel. Lebih lanjut, para pengguna bahkan membuka ponsel tanpa alasan pasti.

Mereka yang membuka ponsel di sela-sela pekerjaannya biasanya dilakukan saat peralihan dari satu tugas ke tugas lainnya. Misalnya saat mengirimkan email atau menunggu meeting dimulai. Meski terlihat seperti jeda singkat, kebiasaan ini justru membuat seseorang mudah kehilangan fokusnya. Membuatmu terbiasa memecah perhatian dan makin sulit untuk tetap fokus pada pekerjaan.


**

Bila tanda-tanda di atas sudah ada pada dirimu, ada baiknya mulailah untuk mengurangi konsumsi berlebihan pada layar ponsel. Matikan sementara notifikasi ponsel atau gunakan fitur “Do Not Disturb” agar perhatianmu tidak teralihkan saat sedang bekerja.

Mengurangi penggunaan media sosial juga bisa dengan cara menyibukkan diri pada kegiatan lain yang tak ada hubungannya dengan ponsel, seperti membaca, memasak, ataupun hal lainnya. Buat dirimu cukup sibuk hingga akhirnya ponsel, khususnya media sosial tak lagi mengganggu kehidupanmu.

 

Referensi

Lse.ac.uk. diakses pada Juni 2025. https://www.lse.ac.uk/research/research-for-the-world/health/screen-time-why-we-cant-stop-checking-our-phones

Posting Komentar

0 Komentar